Rabu, 30 Oktober 2013



Tugas Praktikum-1 Pengembangan Masyarakat (KPM-231)
Topik 1 : “Pengmbangan Masyarkat dan Paradigma Pembangunan
Sasaran Perluasan Program Karang Gizi: kasus Nanggawer
Oleh: Lala M.  Kolopaking
Peningkatan Produktivitas Penangkapan Ikan Masyarakat Nelayan : Kasus Mertasinga
Oleh: Ono Sutarno
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Trikolimtan di Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi
Oleh: Suandi dkk

















Asisten: Bu Hana Indriana, Sp. Msi.

Kelompok: CSR
Anggota:
1.
Mohamad suheri
E44120043
2.
Nining Nur Fatma
                E44110039
3.
Fatimatul Muzakiyah
                I24120030
4.
Maryanti
I24120024







Bagian Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
IPB



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Telah banyak program pengembangan masyarakat pedesaan dijalankan diberbagai pelosok Indonesia sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Namun demikian, suatu paradigma yang belum terumuskan adalah konsep pengembangan masyarakat pedesaan yang spesifik dengan mempertimbangkan pola-pola pengambilan keputusan yang berkembang dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat pedesaan pada setiap wilayah mempunyai karakter yang sangat heterogen sifatnya sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam proses pembangunanya. Pendekatan yang berbeda ini mengisyaratkan  partisipasi masyarakat dan keterlibatan aktif masyarakat dalm pengambilan keputusan, implementasi, dan evaluasi program. Pendekatan ini juga berarti telah menghitungkan tingkat kematangan dan dinamika masyarakat dalam usaha untuk mengembangkan kesubjekannya dalam pelaksanaan pembangunan (Kasiyanto 1994).
Perlunya pendekatan yang spesifik semakin disadari Karena banyaknya program pembangungan yang dijalankan oleh pemerintah di daerah terpencil masih belum mencapai sasaran yang diharapkan. Dampak dari program tersebut belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara mendasar (Susanto,Astrid S. 1994). Pendekatan pembangunan yang dilakukan selama ini secara umum menggunakan pendekatan sektoral yang berorientasi pada target, yang terlalu mengacu pada pembangunan urban, bukan wilayah terpencil yang masih menghadapi masalah mendasar, dari masalah tingkat keterampilan yang sangat rendah hingga masalah infrastruktur social dan ekonomi yang belum memadai untuk menerima pelaksanaan pembangunan dalam seketika.

1.2    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.       Mengidentikasi ciri-ciri komunitas dalam perspektif sosiologi
2.       Mengetahui dan mengklasifikasi perubahan paradigma dalam pembangunan
1.3    Rumusan masalah
1.       Bagaimana ciri-ciri komunitas dengan menggunakan perspektif  sosiologi dalam bacaan “Sasaran Perluasan Program Karang Gizi: Kasus Nanggawer” dan “peningkatan Produktivitas Penangkapan Ikan Masyarakat Nelayan: Kasus Mertasinga” ?
2.       Bagaimana perbandingan masyarakat dengan ciri-ciri komunitas yang ada dalam kedua bacaan tersebut?
3.       Apakah proses pembangunan pada bacaan tersebut merujuk pada paradigma pembangunan?











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pertumbuhan penduduk dan pembangunan
Dalam teori transisi demografi (Todara 1989), perjalanan kependudukan dibagi menjadi tiga tahap perkembangan. Pada tahap pertama, masyarakat dalam tahap tradisional, pertumbuhan penduduk stabil kareana angka kelahiran dan angka kematian sama-sama tinggi. Pada tahap kedua yaitu, pada saat dimulainya modernisasi, pertumbuhan penduduk meningkat dengan tajam karena tingkat kematian yang rendah dengan meningkatnya fasilitas kesehatan, tetapi pada tahap ini kelahiran belum menunkukan penurunan. Baru tahap ketiga, pertumbuhan penduduk yang tinggi mulai mempengaruhi penurunan angka kelahiran. Kelambanan penurunan tingkat kelahiran terhadap penurunan tingkat kematian inilah yang disebut sebagai masa transisi demografi. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya ledakan penduduk setelah perang kedua berakhir.
2.2 Pendidikan dan pembangunan
Hubungan antara tingkat pndidikan dan pertumbuhan ekonomi kiranya tidak dapat diragukan lagi. Berdasarkan fakta statistic mengenai asal muasal pertumbuhan ekonomi dinegara-negara maju dapat dibuktikan bahwa bukan pertumbuhan capital fisik yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi justru pertumbuhan modal manusia (human capital) yang merupakan sumber terpenting dari kemajuan ekonomi negara-negara maju (Todaro 1989).
2.3 Transformasi pertanian
Dalam rangka mentransformasikan sector pertanian dari pertanian subsistem yang rendah produktivitasnya menjadi pertanian modern yang sangat produktif, dikenal tiga tahapan pokok dalam evolusi produktif pertanian, yaitu: tahap pertanian subsistem yang mempunyai produktivitas rendah,  tahap pertanian diversifikasi, dan akhirnya menuju tahap pertanian modern terspeliasialisasi (Todaro 1989). Tahap pertanian subsistem sebagian besar keluarannya dikonsumsi sendiri, dan sebagian kecil sisanya diperdagangkan di pasar local. Tahap diversifikasi merupakan tahap perantara dalam transisi dari produksi subsistem menjadi produksi terspesialisasi. Tahap pertanian spesialisasi seluruh keluaran pertanian ditujukan untuk keperluan pasar.


















BAB III
PEMBAHASAN

Dalam perspektif sosiologi, komunitas diartikan sebagai warga setempat yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama yang mempunyai kebutuhan yang sama. Dalam bacaan pertama, kasus Nanggewer termasuk kedalam komunitas pedesaan dimana hubungan antara masyarakatnya sangat erat dan saling bergantung satus sama lain. Peran pemuka/ tokoh-tokoh masyarakat juga sangat tinggi terutama dalam hal penyebaran informasi. Sedangkan  kasus Mertasinga pada bacaan kedua, komunitasnya termasuk kedalam komuitas agraris, yaitu komunitas nelayan. Solidaritas terbentuk karena adanya persamaan profesi dan kebutuhan. Pada bacaan ketiga  kasus di kota Sungai Penuh, komunitas yang terbentuk juga komunitas agraris yaitu komunitas petani peladang. Solidaritas terbentuk karena adanya kesamaan profesi dan kebutuhan. Berikut ini adalah ciri-ciri komunitas yang terdapat dalam dua bacaan tersebut berdasarkan perspektif sosiologi :
Ciri-ciri Komunitas
Nanggewer (komunitas pedesan)
Mertasinga (komunitas nelayan)
Kota Sungai Penuh (komunitas petani peladang)
Wilayah tertentu

Keterlibatan anggota dalam kegiatan


Ikatan solidaritas yang kuat


Adanya perasaan yang sama (seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan)
Kampung Nanggewer

Kegiatan pengajian, Warung Hidup, Apotek Hidup dan Karang Gizi

Mengajak dan menghimbau tetangga dan masyarakat lain untuk mengikuti kegiatan

Ingin meningkatakan kesejahteraan dan memaksimalkan pemanfaatan lahan yang ada
Kampung Mertasinga

Program motorisasi dan usaha ekonomi


Ikut serta dalam program motorisasi dan usaha ekonomi

Ingin meningkatakan produktifitas dan kesejahteraan dengan berbagai macam program
Kota Sungai Penuh
Program vertikultur dan kelompok usaha mandiri

Ikut serta dalam program penerapan ipteks

Ingin memenuhi kebutuhan dan meningkatakan kesejahteraan

Jika dibandingkan dari kedua bacaan tersebut, masyarakat kampung Nanggewer lebih menunjukkan ciri-ciri kmunitas karena adanya solidaritas dan kepedulian yang tinggi antar sesama warga maupun dari tokoh masyarakat kepada warga.
Dari segi pergeseran paradigma, masyarakat kampung Nanggewer termasuk kedalam pengembangan masyarakat berbasis komunitas (people centered development). Adapaun beberapa unsurnya yang pertama yaitu desentralisasi. Artinya pelimpahan kewenangan terhadap sutau daerah dalam melakukan kebijakan. Hal tersebut terdapat dalam bacaan”di kampong Nanggewer terdapat pusat pemerintahan desa Mekarsari dengan terdapat organisasi pemerintah seperti Rukun Kampung (RK)”. Yang kedua, partisipasi, artinya adanya keikutsertaan kelompok komunitas dalam melaksanakan kegiatan guna memenuhi kebutuhan komunitasnya. Hal ini terdapat dalam bacaan “semangat swadaya yang dihidupkan dalam kehidupan warga Cigaru pendorong penyebaran Karang Gizi secara serentak dan meluas’’. Selanjutnya, pemberdayaan, artinya adanya hubungan saling keterkaitan antara anggota yang cenderung Powerfull dan Powerless. Dalam bacaan ini terdapat pada kalimat “pihak Dinas Pertanian kembali memberikan bantuan bibit-bibit tanaman untuk pekarangan”. Pelestarian, artinya kegiatan untuk menjaga sumberdaya yang sudah ada sebelumnya agar tidak habis. Terdapat pada bacaan “penduduk Nanggewer dalam pemanfaatan pekarangan melalui WH dan AH mendorong semangat penduduk untuk melanjutkan upaya penerasan tanah dengan cara berkelompok”.jejaring sosial, artinya adanya jaringan yang mengayomi komunitas tersebut dalam memenuhi kebutuhanya. Hal ini terdapat dalam bacaan “fungsi pekarangan sebagai lahan produktif mulai berkembang setelah adanya penyuluhan dari petugas BKKBN. Gagasan WH  dan AH pun disebarkan ke tetangganya sehingga meluasnya pengenalan WH dan AH”. Teritorial, artinya adanya tempat yang menjadi tempat perkumpulan komunitas tersebut dalam memenuhi kebutuhanya. Hal ini terdapat pada bacaam “kampong Nanggewer yang termasuk desa Mekarsari sebagian besar penduduknya sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani”. Keswadayaan local, artinya adanya peran anggota komunitas tersebut dalam memenuhi kebutuhanya. Hal tersebut terdapat dalam bacaan “kehadiran Karang Gizi di wilayah Nanggewer sering diartikan oleh sebagian penduduk Nanggewer sebagai titik awal akan hadirnya pengembangan swadaya masyarakat seperti di desa Cigaru”. Sustainabale, artinya adanya unsur keberlanjutan saat komunitas memenuhi kebutuhanya. Hal ini terdapat dalam bacaan “ kegiatan WH dan AH mendorong semangat penduduk untuk melanjutkan upaya penerasan tanah dengan cara berkelompok”. Adapun cirri lainya adalah keswadayaan lokal karena pemerintah hanya memfasilitasi dan semua kegiatan berasal dari inisiatif warga dan tokoh-tokoh masyarakat. Contohnya Dinas Pertanian memberikan bantuan benih dalam rangka menunjang program yang terdapat di kampung Nanggewer. Sedangkan pada kasus di kampung Mertasinga, pergeseran paradigma termasuk kedalam pengembangan masyarakat berbasis produk. Hal ini dicirikan dengan adanya program kredit investasi kecil yang berasal dari pemerintah sehingga partisipasi komunitas kurang diperhatikan. Namun hal itu dapat menimbulkan kemandirian dalam masyarakat yang berdampak pada berkembangnya kegiatan non formal dan berbagai macam usaha ekonomi. Pada kasus di Kota Sungai Penuh pergeseran paradigma termasuk kedalam pengembangan masyarakat berbasiskomunitas. Hal ini dicirikan dengan adanya program penerapan ipteks yang dibuat oleh sekelompok orang tertentu dan pemerintah hanya memberikan dana untuk pengembangan program tersebut melalui DIKTI. Selain itu mereka juga membentuk usaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan.





BAB IV
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Pembangunanmasyarakat dan pengembangan wilayah pedesaan melibatkan berbagai factor-faktor social, ekonomi, budaya dan teknologi, yang satu sama lain saling berinteraksi dalam proses pembangunan. Setiap pembangunan menawarkan perubahan, yang dampaknya terhadap satu wilayah dengan wilayah lainnya berlainan. Perubahan sosial-ekonomi yang terjadi dapat menjadi sangat kompleks, sehingga tidak  memungkinkan untuk memprediksi perilakunya dengan metode analitik konvensional.
5.2. Saran`
Tujuan pembangunan adalah adanya perubahan-perubahan social-ekonomi masyarakat. Pendekatan sektoral merupakan pendekatan yang paling tepat karena kemajuannya dapat diukur karena indikatornya terbatas.

Daftar Pustaka
Kasiyanto,M.J. 1994. Masalah dan Strategi Pembangunan Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Pembangunan.
Susanto,Astrid S. 1984. Sosiologi Pembangunan.  Jakarta :Bina Cipta.
Todaro, Michael P. 1989. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Surabaya: Penerbit Erlangga.