Tugas
Praktikum-1 Pengembangan Masyarakat (KPM-231)
Topik
1 : “Pengmbangan Masyarkat dan Paradigma Pembangunan
Sasaran
Perluasan Program Karang Gizi: kasus Nanggawer
Oleh:
Lala M. Kolopaking
Peningkatan
Produktivitas Penangkapan Ikan Masyarakat Nelayan : Kasus Mertasinga
Oleh:
Ono Sutarno
Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Pengembangan Pertanian Organik Berbasis Trikolimtan di Kota
Sungai Penuh Provinsi Jambi
Oleh:
Suandi dkk

Asisten:
Bu Hana Indriana, Sp. Msi.
Kelompok:
CSR
Anggota:
|
1.
|
Mohamad suheri
|
E44120043
|
|
2.
|
Nining Nur Fatma
|
E44110039
|
|
3.
|
Fatimatul Muzakiyah
|
I24120030
|
|
4.
|
Maryanti
|
I24120024
|
Bagian
Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat
Departemen
Sains dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas
Ekologi Manusia
IPB
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Telah banyak program pengembangan
masyarakat pedesaan dijalankan diberbagai pelosok Indonesia sebagai salah satu
upaya dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Namun demikian, suatu
paradigma yang belum terumuskan adalah konsep pengembangan masyarakat pedesaan
yang spesifik dengan mempertimbangkan pola-pola pengambilan keputusan yang
berkembang dalam masyarakat tersebut.
Masyarakat pedesaan pada setiap wilayah
mempunyai karakter yang sangat heterogen sifatnya sehingga membutuhkan
pendekatan yang berbeda dalam proses pembangunanya. Pendekatan yang berbeda ini
mengisyaratkan partisipasi masyarakat
dan keterlibatan aktif masyarakat dalm pengambilan keputusan, implementasi, dan
evaluasi program. Pendekatan ini juga berarti telah menghitungkan tingkat
kematangan dan dinamika masyarakat dalam usaha untuk mengembangkan
kesubjekannya dalam pelaksanaan pembangunan (Kasiyanto 1994).
Perlunya pendekatan yang spesifik
semakin disadari Karena banyaknya program pembangungan yang dijalankan oleh
pemerintah di daerah terpencil masih belum mencapai sasaran yang diharapkan.
Dampak dari program tersebut belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara
mendasar (Susanto,Astrid S. 1994). Pendekatan pembangunan yang dilakukan selama
ini secara umum menggunakan pendekatan sektoral yang berorientasi pada target,
yang terlalu mengacu pada pembangunan urban, bukan wilayah terpencil yang masih
menghadapi masalah mendasar, dari masalah tingkat keterampilan yang sangat
rendah hingga masalah infrastruktur social dan ekonomi yang belum memadai untuk
menerima pelaksanaan pembangunan dalam seketika.
1.2
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
Mengidentikasi
ciri-ciri komunitas dalam perspektif sosiologi
2.
Mengetahui
dan mengklasifikasi perubahan paradigma dalam pembangunan
1.3 Rumusan
masalah
1.
Bagaimana
ciri-ciri komunitas dengan menggunakan perspektif sosiologi dalam bacaan “Sasaran Perluasan
Program Karang Gizi: Kasus Nanggawer” dan “peningkatan Produktivitas
Penangkapan Ikan Masyarakat Nelayan: Kasus Mertasinga” ?
2.
Bagaimana
perbandingan masyarakat dengan ciri-ciri komunitas yang ada dalam kedua bacaan
tersebut?
3.
Apakah
proses pembangunan pada bacaan tersebut merujuk pada paradigma pembangunan?
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pertumbuhan penduduk dan pembangunan
Dalam
teori transisi demografi (Todara 1989), perjalanan kependudukan dibagi menjadi
tiga tahap perkembangan. Pada tahap pertama, masyarakat dalam tahap
tradisional, pertumbuhan penduduk stabil kareana angka kelahiran dan angka
kematian sama-sama tinggi. Pada tahap kedua yaitu, pada saat dimulainya
modernisasi, pertumbuhan penduduk meningkat dengan tajam karena tingkat
kematian yang rendah dengan meningkatnya fasilitas kesehatan, tetapi pada tahap
ini kelahiran belum menunkukan penurunan. Baru tahap ketiga, pertumbuhan
penduduk yang tinggi mulai mempengaruhi penurunan angka kelahiran. Kelambanan
penurunan tingkat kelahiran terhadap penurunan tingkat kematian inilah yang
disebut sebagai masa transisi demografi. Kondisi inilah yang menyebabkan
terjadinya ledakan penduduk setelah perang kedua berakhir.
2.2
Pendidikan dan pembangunan
Hubungan
antara tingkat pndidikan dan pertumbuhan ekonomi kiranya tidak dapat diragukan
lagi. Berdasarkan fakta statistic mengenai asal muasal pertumbuhan ekonomi
dinegara-negara maju dapat dibuktikan bahwa bukan pertumbuhan capital fisik
yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi justru pertumbuhan modal
manusia (human capital) yang
merupakan sumber terpenting dari kemajuan ekonomi negara-negara maju (Todaro
1989).
2.3
Transformasi pertanian
Dalam
rangka mentransformasikan sector pertanian dari pertanian subsistem yang rendah
produktivitasnya menjadi pertanian modern yang sangat produktif, dikenal tiga
tahapan pokok dalam evolusi produktif pertanian, yaitu: tahap pertanian
subsistem yang mempunyai produktivitas rendah,
tahap pertanian diversifikasi, dan akhirnya menuju tahap pertanian
modern terspeliasialisasi (Todaro 1989). Tahap pertanian subsistem sebagian
besar keluarannya dikonsumsi sendiri, dan sebagian kecil sisanya diperdagangkan
di pasar local. Tahap diversifikasi merupakan tahap perantara dalam transisi
dari produksi subsistem menjadi produksi terspesialisasi. Tahap pertanian
spesialisasi seluruh keluaran pertanian ditujukan untuk keperluan pasar.
BAB
III
PEMBAHASAN
Dalam
perspektif sosiologi, komunitas diartikan sebagai warga setempat yang dapat
dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian
bersama yang mempunyai kebutuhan yang sama. Dalam bacaan pertama, kasus
Nanggewer termasuk kedalam komunitas pedesaan dimana hubungan antara
masyarakatnya sangat erat dan saling bergantung satus sama lain. Peran pemuka/
tokoh-tokoh masyarakat juga sangat tinggi terutama dalam hal penyebaran
informasi. Sedangkan kasus Mertasinga
pada bacaan kedua, komunitasnya termasuk kedalam komuitas agraris, yaitu
komunitas nelayan. Solidaritas terbentuk karena adanya persamaan profesi dan
kebutuhan. Pada bacaan ketiga kasus di
kota Sungai Penuh, komunitas yang terbentuk juga komunitas agraris yaitu
komunitas petani peladang. Solidaritas terbentuk karena adanya kesamaan profesi
dan kebutuhan. Berikut ini adalah ciri-ciri komunitas yang terdapat dalam dua
bacaan tersebut berdasarkan perspektif sosiologi :
|
Ciri-ciri Komunitas
|
Nanggewer (komunitas
pedesan)
|
Mertasinga (komunitas
nelayan)
|
Kota Sungai Penuh
(komunitas petani peladang)
|
|
Wilayah
tertentu
Keterlibatan
anggota dalam kegiatan
Ikatan
solidaritas yang kuat
Adanya
perasaan yang sama (seperasaan, sepenanggungan dan saling memerlukan)
|
Kampung
Nanggewer
Kegiatan
pengajian, Warung Hidup, Apotek Hidup dan Karang Gizi
Mengajak
dan menghimbau tetangga dan masyarakat lain untuk mengikuti kegiatan
Ingin
meningkatakan kesejahteraan dan memaksimalkan pemanfaatan lahan yang ada
|
Kampung
Mertasinga
Program
motorisasi dan usaha ekonomi
Ikut
serta dalam program motorisasi dan usaha ekonomi
Ingin
meningkatakan produktifitas dan kesejahteraan dengan berbagai macam program
|
Kota
Sungai Penuh
Program
vertikultur dan kelompok usaha mandiri
Ikut
serta dalam program penerapan ipteks
Ingin
memenuhi kebutuhan dan meningkatakan kesejahteraan
|
Jika
dibandingkan dari kedua bacaan tersebut, masyarakat kampung Nanggewer lebih
menunjukkan ciri-ciri kmunitas karena adanya solidaritas dan kepedulian yang
tinggi antar sesama warga maupun dari tokoh masyarakat kepada warga.
Dari segi
pergeseran paradigma, masyarakat kampung Nanggewer termasuk kedalam
pengembangan masyarakat berbasis komunitas (people
centered development). Adapaun beberapa unsurnya yang pertama yaitu
desentralisasi. Artinya pelimpahan kewenangan terhadap sutau daerah dalam
melakukan kebijakan. Hal tersebut terdapat dalam bacaan”di kampong Nanggewer
terdapat pusat pemerintahan desa Mekarsari dengan terdapat organisasi
pemerintah seperti Rukun Kampung (RK)”. Yang kedua, partisipasi, artinya adanya
keikutsertaan kelompok komunitas dalam melaksanakan kegiatan guna memenuhi
kebutuhan komunitasnya. Hal ini terdapat dalam bacaan “semangat swadaya yang
dihidupkan dalam kehidupan warga Cigaru pendorong penyebaran Karang Gizi secara
serentak dan meluas’’. Selanjutnya, pemberdayaan, artinya adanya hubungan
saling keterkaitan antara anggota yang cenderung Powerfull dan Powerless. Dalam
bacaan ini terdapat pada kalimat “pihak Dinas Pertanian kembali memberikan
bantuan bibit-bibit tanaman untuk pekarangan”. Pelestarian, artinya kegiatan
untuk menjaga sumberdaya yang sudah ada sebelumnya agar tidak habis. Terdapat
pada bacaan “penduduk Nanggewer dalam pemanfaatan pekarangan melalui WH dan AH
mendorong semangat penduduk untuk melanjutkan upaya penerasan tanah dengan cara
berkelompok”.jejaring sosial, artinya adanya jaringan yang mengayomi komunitas
tersebut dalam memenuhi kebutuhanya. Hal ini terdapat dalam bacaan “fungsi pekarangan
sebagai lahan produktif mulai berkembang setelah adanya penyuluhan dari petugas
BKKBN. Gagasan WH dan AH pun disebarkan
ke tetangganya sehingga meluasnya pengenalan WH dan AH”. Teritorial, artinya
adanya tempat yang menjadi tempat perkumpulan komunitas tersebut dalam memenuhi
kebutuhanya. Hal ini terdapat pada bacaam “kampong Nanggewer yang termasuk desa
Mekarsari sebagian besar penduduknya sebagian besar bermatapencaharian sebagai
petani”. Keswadayaan local, artinya adanya peran anggota komunitas tersebut
dalam memenuhi kebutuhanya. Hal tersebut terdapat dalam bacaan “kehadiran
Karang Gizi di wilayah Nanggewer sering diartikan oleh sebagian penduduk
Nanggewer sebagai titik awal akan hadirnya pengembangan swadaya masyarakat
seperti di desa Cigaru”. Sustainabale, artinya adanya unsur keberlanjutan saat
komunitas memenuhi kebutuhanya. Hal ini terdapat dalam bacaan “ kegiatan WH dan
AH mendorong semangat penduduk untuk melanjutkan upaya penerasan tanah dengan
cara berkelompok”. Adapun cirri lainya adalah keswadayaan lokal karena
pemerintah hanya memfasilitasi dan semua kegiatan berasal dari inisiatif warga
dan tokoh-tokoh masyarakat. Contohnya Dinas Pertanian memberikan bantuan benih
dalam rangka menunjang program yang terdapat di kampung Nanggewer. Sedangkan
pada kasus di kampung Mertasinga, pergeseran paradigma termasuk kedalam
pengembangan masyarakat berbasis produk. Hal ini dicirikan dengan adanya
program kredit investasi kecil yang berasal dari pemerintah sehingga
partisipasi komunitas kurang diperhatikan. Namun hal itu dapat menimbulkan
kemandirian dalam masyarakat yang berdampak pada berkembangnya kegiatan non
formal dan berbagai macam usaha ekonomi. Pada kasus di Kota Sungai Penuh
pergeseran paradigma termasuk kedalam pengembangan masyarakat berbasiskomunitas.
Hal ini dicirikan dengan adanya program penerapan ipteks yang dibuat oleh
sekelompok orang tertentu dan pemerintah hanya memberikan dana untuk
pengembangan program tersebut melalui DIKTI. Selain itu mereka juga membentuk
usaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan.
BAB IV
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Pembangunanmasyarakat
dan pengembangan wilayah pedesaan melibatkan berbagai factor-faktor social,
ekonomi, budaya dan teknologi, yang satu sama lain saling berinteraksi dalam
proses pembangunan. Setiap pembangunan menawarkan perubahan, yang dampaknya
terhadap satu wilayah dengan wilayah lainnya berlainan. Perubahan
sosial-ekonomi yang terjadi dapat menjadi sangat kompleks, sehingga tidak memungkinkan untuk memprediksi perilakunya
dengan metode analitik konvensional.
5.2. Saran`
Tujuan
pembangunan adalah adanya perubahan-perubahan social-ekonomi masyarakat.
Pendekatan sektoral merupakan pendekatan yang paling tepat karena kemajuannya
dapat diukur karena indikatornya terbatas.
Daftar
Pustaka
Kasiyanto,M.J. 1994. Masalah dan Strategi Pembangunan Indonesia.
Jakarta: PT Pustaka Pembangunan.
Susanto,Astrid
S. 1984. Sosiologi Pembangunan. Jakarta :Bina Cipta.
Todaro, Michael P. 1989. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Surabaya:
Penerbit Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar